Kamis, 25 September 2008

Rahasia Sukses Perbanyak Kantong Semar


Umumnya, budidaya nepenthes dilakukan di greenhouse oleh para penangkar. Namun jika mau, Anda bisa mencobanya di rumah, asal tahu trik-triknya. Nepenthes yang mudah dibudidayakan adalah N. alata, N. ventricosa, N. khasiana, dan N. sanguinea. Keempatnya adalah jenis nepenthes dataran tinggi. Sedangkan untuk kantong semar dataran rendah, jenis yang relatif paling mudah dibudidayakan adalah N. rafflesiana, N.bicalcarata, N.mirabilis, dan N.hirsuta.
Tanaman nepenthes bisa diperbanyak dengan menggunakan berbagai cara. Yang pertama dengan menggunakan biji. Biji didapat dengan cara menyerbuki bunga betina dengan serbuk sari bunga jantan. Penyemaian biji dilakukan pada media sphagnum moss yang dilembabkan. Kelembaban harus dijaga dengan seksama agar tidak terlalu kering atau terlalu lembab sehingga terinfeksi oleh cendawan. Untuk memperbaiki kualitas aerasi dan mencegah kelembaban, campur sphagnum moss dengan pakis anggrek atau perlite (komposisi 1:1). Biji akan berkecambah maksimal sampai dua bulan dan butuh waktu 3—4 tahun untuk mencapai ukuran dewasa. Selain karena lama, metode ini kurang populer karena kualitas biji nepenthes umumnya cepat menurun segera setelah dipanen.
Untuk metode stek, media yang bisa digunakan adalah sphagnum moss atau moss hijau untuk merangkai bunga. Media ini bagus karena bisa mengikat air dalam jumlah banyak. Stek dilakukan dengan cara memotong batang tanaman dewasa yang telah memanjang, dapat berupa pucuk atau bagian batang lain yang masih berwarna hijau. Bahan stek dapat berupa stek satu mata hingga lebih dari lima mata tunas. Ingat, untuk meletakkan stek-stek ini di lokasi yang ternaungi tetapi tetap mendapat sinar matahari. Anda bisa menggunakan paranet untuk mengatur jumlah sinar yang masuk. Dengan metode ini, batang stek akan mulai berakar setelah 1-2 bulan, dan mencapai ukuran dewasa setelah 6 bulan. Umumnya, nepenthes tidak memerlukan hormon tambahan untuk merangsang perakaran. Namun pada beberapa spesies, hormon dapat membantu mempercepat perakaran. Kelebihan hormon dapat menyebabkan stek menjadi busuk. Pemisahan anakan juga dapat dilakukan untuk memperbanyak nepenthes. Nepenthes umumnya mengeluarkan anakan setelah tanaman cukup dewasa. Anakan dipisah dari induknya jika telah memiliki akar sendiri.
Nepenthes juga bisa diperbanyak dengan cara mencangkok. Proses pencangkokannya sama seperti cara mencangkok tanaman berkayu lainnya. Selain itu, nepenthes juga bisa diperbanyak dengan cara “merunduk”. Caranya adalah dengan menimbun sulur nepenthes yang memanjang dengan media tanam. Bagian yang ditimbun adalah bagian ruas-ruas batang yang berpotensi menghasilkan akar. Lama kelamaan, bagian ini akan berakar dan nepenthes hasil rundukan siap dipisahkan dari induknya.
Kultur jaringan, adalah metode yang paling umum dipakai saat ini, khususnya oleh penangkar yang memiliki nursery. Alasannya, caranya terhitung mudah, waktu produksi yang lebih singkat, dan resiko kegagalan yang relatif lebih kecil. Produksi yang tergolong “massal” ini bisa menekan harga jual nepenthes. Karenanya, cara ini juga mengurangi pengambilan kantong semar langsung dari alam bebas untuk dijual.

http://www.kompas.com

Senin, 22 September 2008

Apa itu Tanaman Karnivora

Written by ma_suska

Friday, 18 April 2008 14:26


Definisi sederhana dari tanaman karnivora adalah semua tanaman yang memangsa binatang sebagai sumber nutrisinya.
Dahulu, tanaman karnivora disebut sebagai tanaman insektivora karena umumnya hanya serangga saja yang menjadi mangsanya. Tetapi setelah ditemukan tengkorak tikus dan kadal dalam beberapa kantung Nepenthes rajah dan beberapa jenis nepenthes lainnya, maka sekarang lebih banyak orang yang menyebut jenis tanaman ini sebagai tanaman karnivora.
Menurut Givnish et al. (1984), untuk digolongkan sebagai tanaman karnivora, tanaman tersebut harus memenuhi dua kriteria. Yakni:
Tanaman ini harus dapat menyerap nutrisi dari binatang yang telah mati yang ada pada permukaan bagian tanamannya, dan dapat meningkatkan pertumbuhan, kesempatan bertahan hidup, produksi pollen, atau biji.
Tanaman ini harus memiliki beberapa adaptasi searah untuk melakukan atraksi aktif, menangkap dan mencerna mangsa.


Di bumi ini terdapat setidaknya 600 spesies yang berasal dari 15 genus yang termasuk ke dalam tanaman karnivora. Kedua puluh genus tersebut terbagi menjadi anggota 7 keluarga (family). Beberapa tanaman lain dari genus Brocchinia, Catopsis, Paepalanthus (Bromeliaceae) , Roridula, Craniolaria,Ibicella, Martynia, Proboscidea dan yang lainnya juga digolongkan sebagai tanaman karnivora oleh beberapa ahli. Namun karena mereka tidak memproduksi enzim pengurai, maka banyak pula yang meragukan mereka sebagai tanaman karnivora. Tanaman karnivora tumbuh menyebar di permukaan bumi, di seluruh benua, kecuali di benua Antartika. Mulai dari hutan hujan tropis, hingga dinginnya Alaska. Namun pada umumnya, tanaman karnivora hidup di tempat dimana banyak tanaman lain tidak dapat bertahan hidup, bercirikan kondisi tumbuh yang miskin hara dan banyak mengandung air.


(ma_suska)


Nepenthes: Antara Kesempatan dan Ancaman

Written by Tim Nepenthes Sumatra

Thursday, 10 April 2008 14:32


Nepenthes, tumbuhan berkantong unik ini pasti menarik para kolektor tumbuhan di Indonesia. Bukan hanya itu, si “Kantong Semar” inipun diminati oleh kolektor luar negeri setelah sekian lama terlupakan begitu saja. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peranan media yang intensive memberitakan keberadaannya, sebut saja Trubus, Flona, Kompas dan media lainnya. Istana presiden pun sempat dihiasi rangkaian kantong tumbuhan ini. Para hobbies dan grower Nepenthes mulai bangga menunjukkan koleksi yang mereka punya dan melahirkan peminat-peminat baru yangtidak sedikit jumlahnya. Para kolektor latah pun mulai membiasakan diri membeli tumbuhan ini dari pameran atau expo tumbuhan hias yang digelar beberapa institusi. Ulasan tentang Nepenthes nyaris tidak terhenti dalam beberapa bulan terakhir dan mengambil alih perhatian pencinta tanaman hias lainnya untuk sementara waktu seperti pencinta tanaman jenis Euphorbia dan Aglaomorpha yang sempat melejit di akhir tahun 2005.

Walau tidak terdefinisikan dengan jelas ada 3 kelompok pencinta nepenthes yang ada di Indonesia, anatara lain:
1. Kelompok pertama: Peneliti Nepenthes Umumnya bermain di lingkungan perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Jumlahnya sedikit dan tidak begitu terekspos media.
2. Kelompok kedua: Peneliti dan praktisi Nepenthes Komunitas ini kebanyakan berisi pencinta Nepenthes, hobbies, grower, praktisi tanaman hias dan beberapa perguruan tinggi yang menaruh perhatian terhadap tumbuhan ini. Kelompok ini mempunyai komunitas yang paling besar dan keberadaanya mulai terangkat kepermukaan. Dalam kelompok ini berkumpul beberapa anggota yang beragam, majemuk dengan orientasi masing-masing yang belum bisa diprediksi dengan jelas. Ada yang hanya sekedar hobi, ada yang mengembangkan pemanfaatan berkelanjutan dan ada yang pure conservationist. Kelompok ini belakangan sangat diminati media untuk diekspos keberadaannya.
3. Kelompok ketiga: Pebisnis Nepenthes Naiknya popularitas si ”Kantong Semar” jelas dianggap sebagai peluang pasar yang harus dicermati dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Terlebih tumbuhan ini sudah mempunyai nama besar di negara-negara besar diluar Indonesia. Hampir semua jenis asli Nepenthes Indonesia sudah tersebar di negara-negara di Eropa, Amerika dan Jepang. Kelompok ini berada dalam lingkaran abu-abu, di satu sisi berjuang untuk pelestarian Nepenthes, disisi lain mencabut dan mengumpulkan berpuluh puluh Nepenthes liar yang tumbuh di alam untuk menebalkan kantong dengan mengambinghitamkan pembukaan ladang dan masyarakat lokal.


Nepenthes punya peluang besar untuk dimanfaatkan, itu sudah disadari jauh-jauh hari oleh pebisnis, pencinta dan praktisi tanaman hias. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memproklamirkan keberadaannya. Ada ancaman kepunahan dibalik besarnya manfaat yang bisa diambil, itu pun sudah disadari lama oleh para ahli di institusi-institusi penelitian. Sebagai bukti perlindungan dirumuskannya bentuk undang-undang. Namun undang-undang ini seakan hanya sebuahpengumuman. Karena sejauh ini perlindungan Nepenthes belumlah terlaksana dengan baik, terbukti adanyapenurunan populasi dan kerusakan habitat alami Nepenthes. Tanaman yang dilindungi inipun bernasib sama dengan berbagai macam tanaman hias lainnya. Dijajakan di di pinggir jalan dengan harga yang lumayan. Lalu bagaimana dengan status perlindungannya? Siapa yang harus dan berkewajiban melindunginya?

Informasi lebih lanjut silakan menghubungi: Nepenthes Team, Email:
sumatrannepenthes@yahoo.com

This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it


Daftar bacaan/literatur :



Camillleri, T. 1998. Carnivorous Plants. Kangaroo Press. East Roseville, NSW. Clarke, C. 1997. Nepenthes of Borneo. Kota Kinabalu. Clarke, C. 2001.

Nepenthes of Sumatra and Peninsular Malaysia. Kota Kinabalu. Danser, B.H. 1929.

The Nepenthaceae of the Netherlands lndies. Bulletin de Buitenzorg, series III, Vol.IX, 249-438. Jebb, M.H.P. & M. Cheek. 1997.

A Skeletal Revision of Nepenthes (Nepenthaceae). Blumea 42(1):1-106 Pietropaolo, J. & P.Pietropaolo. 1986.

Carnivorous Plants of The World. Timber Press. Oregon Slack, A. 2000. Carnivorous Plants.MIT Press

Sumber : http://rd.comlabs.itb.ac.id/temp/ktki/

Kamis, 18 September 2008

Carnivorous plants: Dramatic, but not the great whites of the plant world



12:00 AM CDT on Friday, August 29, 2008
From Staff and Wire Reports Albany Times Union
They're creepy and they're spooky; some folks consider them to be bordering on the macabre.
Carnivorous pitcher plants (in back) and Venus flytraps attract and capture dinner in different ways.


Staff photo Carnivorous pitcher plants (in back) and Venus flytraps attract and capture dinner in different ways.
Kids can tell you that few plants capture a youthful imagination more completely than a Venus flytrap.
Believe it or not, more than 600 species of meat-eating, a.k.a. carnivorous, plants have been documented. Sadly though, some are extinct due to the destruction of their natural habitats from development or over-collection by zealous humans.
Unlike Hollywood's caricature of humongous plants chasing down and engulfing fleeing creatures, true carnivorous plants are a bit more reserved in their behavior.
Carnivorous plants are often found growing in areas where insect activity is high and soil nutrient value is low, two important environmental characteristics that help to ensure their survival. However, to be a full-fledged, honest-to-goodness carnivorous plant, it must be able to attract prey, capture it, digest it and finally utilize the nutrients extracted from the carcass.
Foliage colors, some only apparent to insect eyes due to their ultraviolet or translucent color patterns, glistening water droplets reflecting the sun, sweet fragrances, putrid odors or the shape of the leaf or blossom are what the insects find irresistible and are all methods used by carnivore plants to attract their prey. Once the plant has caught the bug's attention, it needs to somehow retain it.
Capture has many forms. Some plants exude a sticky substance from their stems, leaves or flowers that glues the inquisitive insect to the plant. The sundew is an example of a plant that captures with this method; its leaf hairs glisten in the sun. Sundews can be found on nearly every continent except Antarctica.
The pitfall trap is utilized by the pitcher plant, which can be found growing in habitats throughout eastern North America. Many insects are lured into the tunnel-shaped leaf by the odor of other decaying insects or the flower's color. Once inside, they meet their demise as slippery walls send them down to a reservoir of drowning water.
Memorable plants
The snap trap is the Venus flytrap's claim to fame. Tiny, highly sensitive hairs line the crease of the trap. When the mild-mannered insect touches the hairs, the halves fold closed, trapping it inside. The Venus flytrap was once a common sight through North and South Carolina, but due to land development and man's keen interest in the species, its native habitats are dwindling quickly.
Rick Archie of Archie's Gardenland in Fort Worth remembers growing carnivorous plants indoors when he was 13. The Venus flytrap prefers live flies, he says, and it's fascinating to watch them. "After digesting in two weeks, the fly's little skeleton is dropped out as the lobe reopens," he says.
For further proof of the Venus flytrap's appeal to children, Kimberly Bird of Calloway's Nursery points to the Judy Moody children's book series.
"The main character, Judy, has a Venus flytrap. Her brother, Stink, almost kills it by giving it a lump of raw hamburger meat. But she took the smelly plant to school anyway for show and tell."
Ms. Bird brought home a Venus flytrap and her daughter, Lily, 8, has deemed herself official caretaker.
The largest genus of carnivorous plants utilizes a bladder-like trap; hence, their common name, bladderwort.
Found in fresh water and where soils remain continually wet, again on every continent except Antarctica, this species uses those receptive fine hairs as does the Venus flytrap. But rather than clamping down on its prey, the hairs trigger a trap-door mechanism that opens. This creates a suction that draws the prey and surrounding water inside, closing the door behind it. The whole operation can happen in 1/30th of a second.
Whichever trap is used, the insect's chances of escape are slim. All that's left is the digestion process.
You might be surprised to find these plants use many of the same digestive enzymes humans use. Amylase (found in human saliva) and protease (found in the stomach) are examples of two of the enzymes plants secrete to help digest their prey.
Even cooler, a byproduct of this digestion process is nitrogen, and true carnivorous plants utilize this nitrogen for growth. The nitrogen they gain from the digestion of their prey makes up for the insufficient amount of nitrogen available in the soil. Bottom line, they cannot absorb enough nitrogen to live on soil alone, nor can they live on insects alone; they are dependent on both sources for survival.
The largest carnivorous plant belongs to the genus Nepenthes. Found in Asia, it's a large vine that has numerous large pitfall traps big enough to hold large frogs and rodents.
Terrarium life
Mr. Archie advises growing the plants in a terrarium with acidic, loose soil of primarily sphagnum moss and peat moss. Water the plants with distilled water or rainwater. A lidded terrarium makes it easier to add live flies. "You can watch for hours to see where they go," he says.
Poke a small hole in the lid to control humidity; too much moisture kills the plants, he says.
The dining habits of the Venus flytrap hold a special fascination for Mr. Archie's younger customers. "Once a week I explain this to some 10-year-old kid who listens carefully while the parents shrug their shoulders," he says.
Albany Times Union
Where to buy
Tiny Venus flytraps are the most commonly available carnivorous plants. Look for them at Lowe's and Home Depot in the small-succulents displays. Independent nurseries stock limited inventories of Venus flytraps and other hard-to-find species. Call for current inventory.
Archie's Gardenland, 6700 Camp Bowie Blvd., Fort Worth
Calloway's, multiple locations
Nicholson-Hardie, 5725 W. Lovers Lane, Dallas
North Haven Gardens, 7700 Northaven Road, Dallas
Petal Pusher's Garden Emporium, 813 Straus Road, Cedar Hill
Sunshine's Miniature Trees, 7118 Greenville Ave., Dallas

Asal-usul Nama Spesies Nepenthes

Asal-usul Nama Spesies Nepenthes

Berikut adalah tulisan Bpk Sofyan David (sofyandavid@yahoo.com) salah satu pakar dalam hal Nepenthes yang berasal dari Bandung :
Berikut adalah nama-nama spesies Nepenthes beserta arti dan asal-usulnya. Kebetulan saya juga berprofesi sebagai penterjemah, khususnya untuk tulisan-tulisan yang berhubungan dengan botani.Bahan ini saya kumpulkan dan terjemahkan dari Wikipedia, disertai tambahan seperlunya. Sebagai contoh dalam artikel asli hanya disebutkan bahwa Junghuhn adalah ahli botani, sehingga saya tambahkan kebangsaannya (Jerman), begitu juga Adrian Yusuf saya tambahkan dia berkebangsaan Indonesia. Walaupun demikian belum jelas apakah beliau ini sebaiknya disebut sebagai ahli botani, penjelajah, kolektor atau naturalis.Beberapa nama tempat asal Nepenthes tertentu juga saya lengkapi. Misalnya saya jelaskan bahwa Perbukitan Khasi itu berada di India.Beberapa nama spesies saya beri pengertian khusus di luar yang diberikan Wiki. Misalnya inermis adalah bahasa Latin yang diartikan Wiki sebagai unarmed atau "tak bersenjata", meskipun demikian saya terangkan bahwa dalam hal Nepenthes, itu berarti "tak berduri". Selain itu saya menemukan kesalahan dalam deskripsi Nepenthes boschiana versi Wikipedia. Menurut Wikipedia, nama bosch diambil dari nama seorang botanist bernama Bosch, padahal yang sebenarnya adalah: ditemukan pada tahun 1839 oleh botanis Belanda bernama P.W. Korthals dan dinamakan menurut Gubernur Jendral Hindia Belanda Van Den Bosch. Bagi yang memerlukan naskah asli terjemahan teks dalam bentuk pdf atau MS Word silakan menghubungi saya di: dave@inti.co.id
Semoga dengan memahami leksikologi spesies-spesies Nepenthes ini kita akan dapat mempelajari dan mengenal Nepenthes dengan lebih mudah.

Salam Nepenthes,

Sofyan D.

ASAL-USUL NAMA SPESIES NEPENTHES

adnata = Latin: adnatus = tumbuh pada sesuatu atau menempel pada sesuatu, mengacu pada pertumbuhan daun di mana bagian pangkal daun memanjang ke bawah dan membentuk sayap di sepanjang batang (seperti memeluk batang).

* ampullaria = Latin: ampulla = kantung yang menyerupai botol.

aristolochioides = Latin: Aristolochia = suatu genus tanaman perdu dan merambat, -oides = menyerupai.

gymnamphora = Latin: gymnos = telanjang, amphoreus = kantung.

gracilis = Latin:gracilis = tipis, ramping.

mirabilis = Latin: mirabilis = menakjubkan.

northiana = dari nama Marianne North, ilustrator pertama spesies ini.

truncata = Latin: truncatus = berakhir dengan tiba-tiba, mengacu pada bentuk ujung daun yang datar, tidak bersudut, seperti terpotong.

*khasiana = dari nama Perbukitan Khasi, India, di mana spesies ini endemik.

edwardsiana = dari nama George Edwards, Gubernur Kolonial Belanda di Labuan.

adrianii = dari nama Adrian Yusuf, orang Indonesia yang menemukannya di tahun 2004.rafflesiana = dari nama Stamford Raffles, pendiri Singapura.

reinwardtiana = dari nama K. G. K. Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor.

eustachya = Yunani: eu = sejati, stachys = duri; mengacu pada struktur perbungaan.

campanulata = Latin: campana = lonceng.

bicalcarata = Latin: bi = dua, calcaratus = taji.

junghuhnii = dari nama Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, ahli botani Jerman yang mengoleksinya antara tahun 1840 dan 1842.

clipeata = Latin: clipeus = perisai bulat; mengacu pada bentuk daun.

veitchii = dari nama George Veitch, pembibit di Veitch Nursery, Inggris.

rajah = dari nama White Rajah (Raja Putih), yaitu dinasti yang mendirikan dan memerintah Kerajaan Sarawak dari tahun 1841 sampai 1946.

hookeriana = dari nama Joseph Dalton Hooker, ahli botani Inggris yang hidup antara tahun 1817 dan 1911.

albomarginata = Latin: albus = putih, marginatus = tepi, pinggiran

sanguinea = Latin: sanguineus = merah darah

hirsuta = Latin: hirsutus = berbulu, berduri

spectabilis = Latin: spectabilis = terlihat, tampak

mira = Latin: mirus = menakjubkan

faizaliana = dari nama anak laki-laki penulis dan ahli biologi Malaysia M. Kh. Faizal.

maxima = Latin: maximus = sangat besar

hispida = Latin: hispidus = diliputi bulu-bulu yang kaku atau kasar, beronak

spathulata = Latin: spathulatus = berbentuk sudip (spatula).

inermis = Latin: inermis = tak bersenjata (tak berduri).

sumatrana = dari nama pulau Sumatera, di mana spesies ini endemik.

fusca = Latin: fuscus = cokelat tua, berkulit gelap.

lowii = dari nama Hugh Low, naturalis dan administrator Kolonial Kerajaan Inggris.

ventricosa = Latin: ventricosus = membengkak (membesar) di satu sisi.

saranganiensis = Latin: sarangani = Propinsi Sarangani, Pilipina, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

talangensis = Latin: talang = Gunung Talang di Sumatra Barat, -ensis = dari.

mollis = Latin: mollis = lunak; mengacu pada rambut-rambut penutup.

alata = Latin: alatus = bersayap.

chaniana = dari nama C.L. Chan, Direktur Natural History Publications (Borneo).

insignis = Latin: insignis = lain dari yang lain, istimewa.

macrophylla = Latin: macro = besar, phylla = daun-daun.

klossii = dari nama H. S. Kloss, yang menemukannya pada tahun 1913.

diatas = Indonesia: di atas.

jamban = Indonesia: jamban = toilet.

jacquelineae = dari nama Jacqueline Clarke, isteri Charles Clarke, ahli botani dan ahli taksonomi spesialis genus Nepenthes berkebangsaan Australia

bongso = Indonesia: bungsu = dari cerita rakyat Puti Bungsu di Sumatera Barat.

anamensis = Latin: anam = Propinsi Annam, nama propinsi yang diberikan oleh Cina untuk wilayah Vietnam bagian utara yang dulu dikuasai Cina, -ensis = dari.

copelandii = dari nama E. B. Copeland, kurator di Manila Herbarium.

mapuluensis = Latin: Mapulu = Gunung Ilas Mapulu di Kalimantan Timur, -ensis = dari.

muluensis = Latin: mulu = Gunung Mulu di Sarawak, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

murudensis = Latin: murud = gunung Murud di Sarawak, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

izumiae = dari nama Izumi Davis, isteri Troy Davis, penggemar dan kolektor Nepenthes.

tenuis = Latin:tenuis = tipis, halus, ramping.

mikei = dari nama Mike Hopkins, sahabat B. Salmon & R. Maulder.

tobaica = dari nama Danau Toba di Sumatera Utara.

danseri = dari nama B. H. Danser, ahli botani dan taksonomi berkebangsaan Belanda (1891-1943) yang mengkhususkan diri pada genus Nepenthes

tomoriana = dari nama Teluk Tomori di Sulawesi, tempat asalnya.

boschiana = dari nama Graaf Johannes Van Den Bosch, Gubernur Jendral Hindia Belanda yang ke 43. Ia memerintah antara tahun 1830 – 1834. Spesies ini ditemukan pada tahun 1839 oleh ahli botani Belanda bernama P.W. Korthals.

beccariana = dari nama Odoardo Beccari, naturalis berkebangsaan Italia yang hidup antara tahun 1843 dan 1920, penemu tanaman Amorphophallus titanum (bunga bangkai) di Sumatera pada tahun 1878.

longifolia = Latin: longus = panjang, folius = daun

sibuyanensis = Latin: sibuyan = Pulau Sibuyan di Pilipina, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari

hamata = Latin: hamatus = berbentuk seperti kait atau paruh

ramispina = Latin: ramus = cabang,spina = duri, taji

dubia = Latin:dubius = meragukan

globosa = Latin: globosus = berbentuk bulat, seperti bola

papuana = dari nama Papua, propinsi di Indonesia di mana spesies ini endemik

pilosa = Latin: pilosus = berbulu

vogelii = dari nama Dr. E. F. de Vogel, ahli botani spesialis tumbuhan paku-pakuan dan anggrek berkebangsaan Belanda.

vieillardii = dari nama Eugene Vieillard, ahli botani berkebangsaan Perancis, yang mengumpulkan tanaman dari Kaledonia Baru dan Tahiti antara 1861 sampai 1867.

paniculata = Latin: panicula = malai (kelompok bunga).

densiflora = Latin: densus = rapat, florus = bunga.

distillatoria = Latin: destillo = menyuling, -oria = bentuk kata sifat; tempat menyimpan cairan untuk disuling, periuk.

argentii = dari nama George Argent, ahli biologi Skotlandia yang pertama kali mengumpulkannya di Palawan, Pilipina.

angasanensis = Latin: angasan = nama Puncak Angasan di Aceh, -ensis = dari.

bellii = dari nama C. R. Bell, ahli botani berkebangsaan Amerika Serikat.

borneensis = Latin: borneo = dari nama Borneo (Kalimantan), asal spesies ini, -ensis = dari.

benstonei = dari nama Benjamin C. Stone (1933-1994), ahli botani berkebangsaan Amerika Serikat.

burbidgeae = dari nama isteri Frederick William Burbidge, penjelajah Inggris abad ke 19 yang mengumpulkan berbagai tanaman tropis untuk Veitch Nursery, Inggris. Burbidge adalah orang yang dianggap berjasa membudidayakan Nepenthes rajah pertama kali.

burkei = dari nama Burke, ahli botani berkebangsaan Inggris.

carunculata = Latin: caruncula, bentuk kecil dari caro = daging; mengacu pada tonjolan yang terdapat pada biji.

deaniana = dari nama Dean C. Worcester (1866 - 1924), ahli zoologi berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah menjadi anggota Komisi Amerika Serikat di Pilipina (United States Philippine Commission).

ephippiata = Latin: ephippium = pelana, iata = berbentuk.

eymae = dari nama P. J. Eyma, ahli botani yang bekerja di Suriname dan Hindia Belanda.

glabrata = Latin: glaber = botak.glandulifera = Latin: glandis = kelenjar, ferre = mengandung, membawa.

gracillima = Latin: bentuk komparatif dari gracilis = ramping.

hurrelliana = dari nama Andrew Hurrell, ahli botani.

lamii = dari nama Herman Johannes Lam (1892-1977), ahli botani berkebangsaan Belanda.

lavicola = Latin: lavicola = tumbuh di atas lava, mengacu pada tempat tumbuh alaminya yaitu di bebatuan vulkanik.

macfarlanei = dari nama John Muirhead Macfarlane (1855–1943), ahli botani berkebangsaan Skotlandia.

macrovulgaris = Latin: macro = besar, vulgaris = umum.

madagascariensis = Latin: madagascar = Pulau Madagaskar, -ensis = dari.

masoalensis = Latin: Masoal(a) = nama tanjung di Madagaskar, -ensis = dari.

merrilliana = dari nama Elmer Drew Merrill (1876-1956), ahli botani berkebangsaan Amerika Serikat.

mindanaoensis = Latin: Mindanao = pulau di Pilipina, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

neoguineensis = Latin: Neo Guine = New Guinea (Nugini), -ensis = dari.

ovata = Latin: ovatus = bulat telur, mengacu pada daun yang berbentuk oval.

pectinata = Yunani: pektos = menggumpal; mengacu pada pektin, substansi yang terdapat di dinding sel yang melekatkan sel-sel satu sama lain.

pervillei = dari nama Perville, ahli botani berkebangsaan Perancis

petiolata = Latin: petiolatus = bertangkai; mengacu pada bentuk perlekatan daun.

philippinensis = Latin: philippin = Pilipina, -ensis = dari.

platychila = Yunani: platus = datar, chilus = bibir.

rhombicaulis = Latin: rhombicus = mengetupat (seperti belah ketupat), caulis = batang.

rigidifolia = Latin: rigidus = kaku, folius = daun.

rowanae = dari nama Ellis Rowan, ilustrator dan naturalis asal Australia.

singalana = dari nama Gunung Singgalang, Sumatera Barat.

smilesii = dari nama Smiles, ahli botani.

stenophylla = Yunani: steno = sempit, phylla = daun-daun.

tentaculata = Latin: tentacula = tentakel-tentakel (alat peraba).

treubiana = dari nama Melanchoir Treub, Kepala Departmen Pertanian, Buitenzorg (Bogor pada masa pemerintahan Hindia Belanda).

xiphioides = Latin: xiph = pedang, -oides = menyerupai; mengacu pada gigi-gigi panjang dan tipis yang terdapat di tepi peristome sebelah dalam.