Selasa, 28 Oktober 2008

Peluang Usaha dan Bisnis Tanaman Kantong Semar


Bentuknya yang unik seperti kantong itulah yang membuatnya disebut kantong semar atau dalam bahasa latin nepenthes. Keunikan tanaman ini juga karena kantongnya dapat menangkap serangga yang dijadikan nutrisi untuk tanaman ini. Tentang harga, tanaman ini bisa mencapai ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Peluang usaha dan peluang bisnis ini sangat pantas untuk kita pertimbangkan .
Bila kita ingin melakukannya sendiri maka kita dapat menggunakan waktu senggang untuk merawat tanaman ini.



Target Pasar
Konsumen terbesar dari tanaman ini adalah datang dari kelas menengah keatas dan para pecinta tanaman. Namun tidak menutup kemungkinan untuk kelas menengah juga membelinya sebagai hobi.
Hal-hal Yang Dibutuhkan
Pertama kita harus memperoleh bijinya terlebih dahulu untuk dikembang-biakkan. Akan lebih mempermudah cara belajar kita jika kita juga membeli tanaman yang sudah jadi meskipun dalam ukuran yang masih kecil. Sehingga pada saat biji yang kita tanam sudah mulai tumbuh, kita sudah terbiasa dalam perawatannya.
Jenis kantong semar yang paling laku di Indonesia adalah jenis Nepenthes gracilis, dimana harganya tergantung dari warnanya. Untuk warna hijau harganya Rp 50.000,- untuk yang belum keluar kantong. Untuk yang sudah keluar kantong, berkisar Rp 100.000,- Untuk yang berwarna cokelat lebih mahal, yakni berkisar antara Rp 150.000,-hingga Rp 200.000,-. Yang harganya termahal adalah Nepenthes reinwardtiana dimana nilainya dapat mencapai Rp 1.000.000,-
Kendala
Bagi masyarakat yang bukan pecinta tanaman, mungkin belum begitu mengenal jenis tanaman ini. Dan hal ini mungkin menjadi kendala yang terbesar bagi kita yang baru memulai jenis usaha ini.
Tips
Ikut serta dalam pameran adalah wadah yang sangat bermanfaat sekali bagi kita selain memasarkannya melalui media massa dan sarana internet.
Dengan membaca majalah atau tabloid serta buku yang secara khusus membahas tentang tanaman ini akan sangat membantu. Tanaman ini sudah sering dibahas dikarenakan oleh keuntungan besar yang menanti.
Tips Merawat Tanaman Kantong Semar
Kita dapat memperbanyak tanaman ini dengan setek batang. Berikut adalah cara yang paling mudah:
Pilihlah tanaman yang telah dewasa yang berumur sekitar 1 tahun dengan tinggi minimum 1 meter.
Potong batangnya sepanjang 15 cm dengan menyisakan 3-4 ruas daun, lalu potong setengah helai daun untuk mengurangi penguapan. Dan potonglah daun paling ujung hingga pangkalnya untuk mempermudah ujung pangkal setek masuk ke dalam media tanam.
Olesi ujung bawah setek dengan hormon pemacu akar atau dengan fungisida untuk mencegah batang terserang jamur.
Tanamlah batang setek pada polybag berukuran 8 cm x 15 cm atau pada gelas plastik berukuran diameter 9 cm dengan tinggi 13 cm yang dasar dindingnya telah dilubangi.
Gunakan media tanam dengan komposisi 1:1, dan letakkan tanaman di tempat yang terlindung dengan intensitas cahaya matahari berkisar 25% dengan kelembapan udara 70-80%. Tunas daun akan tumbuh dalam waktu 2-4 minggu.
Hindarilah tanaman dari sinar matahari langsung.
Setelah memilki 3-4 daun, kita dapat memindahkan tanaman ke pot berdiameter 10-15 cm dengan menambahkan humus, kompos, atau moss. Setelah itu letakkanlah dalam intensitas cahaya 50%.
Anda tertarik memanfaatkan peluang usaha dan bisnis tanaman kantong semar ini?


09:43:11 - Rabu 29 Oktober 2008 - Makasih untuk Yanti,Zaza,Haura juga keluarga di Bengkalis....

http://carnivoreplant.blogspot.com

Mengapa Semut tidak Dimangsa Si Kantong Semar?




Di dalam kantung tumbuhan “kantong-semar“ Nepenthes bicalcarata yang hidup di sebelah India Timur, hiduplah koloni semut. Tumbuhan ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang menghinggapinya. Meskipun demikian, semut bebas bergerak dan mengambil sisa-sisa serangga dan bahan makanan lainnya dari tumbuhan ini.
Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan tumbuhan. Meski semut mungkin saja dimakan Nepenthes, mereka dapat membangun sarang pada tumbuhan ini. Sang tumbuhan juga menyisakan jaringan tertentu dan sisa-sisa serangga untuk semut. Dan sebagai balasannya, semut melindungi tumbuhan dari musuhnya.
Begitulah contoh hubungan kehidupan antara tumbuhan dan semut. Bentuk anatomi dan fisiologi semut dan tumbuhan inangnya telah dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan hubungan timbal balik antara keduanya. Meskipun para pembela teori evolusi menyatakan bahwa hubungan antarjenis makhluk hidup ini berkembang secara berangsur-angsur selama jutaan tahun, tetapi tentu saja pernyataan yang mengatakan bahwa dua makhluk yang tidak memiliki kecerdasan ini dapat sepakat merencanakan suatu sistem yang menguntungkan kedua belah pihak tidaklah masuk akal. Lalu, apa yang menyebabkan semut hidup pada tumbuhan?
Semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena adanya cairan bernama “nektar tersisa” yang dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar ini merupakan daya tarik bagi semut untuk mendatangi tumbuhan. Banyak spesies tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, pohon ceri hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga minggu dalam setahun. Tentu pengeluaran cairan pada waktu ini bukan kebetulan karena waktu tiga minggu ini bertepatan dengan satu-satunya waktu sejenis ulat menyerang pohon ceri hitam. Semut yang tertarik pada nektar dapat membunuh ulat ini serta melindungi tumbuhan.


Pada gambar, kita dapat melihat tumbuhan kantong semar sebagai “perangkap serangga”. Namun, serangga-serangga tertentu lolos dari jebakan tumbuhan kantong semar. Misalnya, semut dapat hidup berdampingan dengan kantong semar. Secara ajaib, tumbuhan ini tidak mempedulikan keberadaan semut.
Hanya dengan menggunakan akal sehat, kita dapat melihat bahwa hal ini adalah bukti hasil penciptaan. Akal sehat tidak mungkin bisa menerima bahwa pohon ini dapat memperhitungkan kapan bahaya akan menyerang lalu memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan cara menarik perhatian semut serta mengubah struktur kimianya. Pohon ceri tidak punya otak. Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir, memperhitungkan, maupun mengubah campuran kimianya. Bila kita menganggap bahwa cara cerdas ini adalah sifat yang diperoleh dari suatu kebetulan, yaitu dasar berpikir evolusi, tentu ini tidaklah masuk akal. Jelas sekali bahwa pohon ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada kecerdasan dan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang dapat kita tarik adalah bahwa sifat tumbuhan ini telah terbentuk karena adanya sebuah Kehendak yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk pada segala bentuk pengaturan yang dibuat-Nya, jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa atas pohon, tetapi juga atas semut dan ulat. Jika penelitian dilakukan lebih jauh lagi, tentunya dapat diketahui bahwa Dia berkuasa atas semesta alam dan telah mengatur setiap bagian alam secara terpisah namun serasi dan selaras, sehingga membentuk sebuah rangkaian sempurna yang kita kenal sebagai “keseimbangan ekologi”. Bila kita berpikir lebih jauh dan meneliti bidang-bidang lain, seperti geologi dan astronomi, kita akan sampai pada gambaran yang serupa. Ke mana pun kita melangkah, kita akan menyaksikan berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras dan teratur sempurna. Semua sistem ini menunjukkan keberadaan Sang Pengatur. Meskipun demikian, tidak satu pun unsur pembentuk alam ini yang mampu berfungsi sebagai Sang Pengatur itu. Oleh karena itu sang pengatur haruslah Dia Yang Maha Tahu dan Mahakuasa atas alam semesta. Al Quran menggambarkan Sang Penguasa sebagai berikut:





“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepadanya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”(QS. Al-Hasyr, 59:24)

Selayang Pandang tentang Kantong Semar


Bagi kalangan pencinta tanaman, jenis ini merupakan pendatang baru yang sedang naik daun. Kantong Semar sebuah nama yang tidak asing lagi bagi kita akan tetapi masih banyak orang yang belum melihat secara lansung si Tanaman Karnivora. Nepenthes, pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne. Nama Nephentes diambil dari sebuah nama gelas anggur. Di Indonesia, disebut sebagai kantong semar, dengan sebutan beragam di berbagai daerah, periuk monyet (Riau), kantong beruk (Jambi), ketakung (Bangka), sorok raja mantri (Jawa Barat). ketupat napu (Dayak Katingan), telep ujung (Dayak Bakumpai), dan selo begongong (Dayak Tunjung).
Tumbuhan yang termasuk dalam golongan tumbuhan liana (merambat) ditanah ataupun di ranting-ranting pohon,berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Hidup di tanah (terrestrial), ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon lain (epifit). Kantong Nepenthes merupakan perubahan bentuk dari ujung daun yang memiliki fungsi menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya. Karenanya tumbuhan ini digolongkan sebagai tanaman karnivora (carnivorous plant), selain Venus Flytrap (Dionaea muscipula), sundews (Droseraceae) dan beberapa jenis lainnya. Tanaman karnivora umumnya hidup pada tanah miskin hara, khususnya nitrogen, seperti kawasan kerangas.
Nepenthes termasuk dalam famili Nepenthaceae dan kelas Magnoliopsida pada umumnya tumbuh pada hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, padang savanna dan tepi danau. Nepenthes tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian selatan. Terdapat sekitar 82 jenis nepenthes di dunia dan 64 jenisnya berada di Indonesia Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) merupakan pusat penyebaran nepenthes di dunia. Sesuai dengan ketinggian tempat hidupnya, Nepenthes dibagi menjadi tiga golongan, yaitu yang hidup pada dataran rendah (0-500 mdpl (meter dari permukaan laut)), dataran menengah (500-1.000 mdpl) dan dataran tinggi (di atas 1.000 mdpl). Untuk di dataran rendah meliputi jenis N. gracilis, N. mirabilis, N. reinwardtiana, dan N. raflesiana, N. adnata, N. clipeata, N. mapuluensis merupakan jenis yang dapat hidup di dataran menengah. Sedangkan yang dapat tumbuh baik di dataran tinggi meliputi N. diatas, N. densiflora, N. dubia, N. ephippiata dan N. eymae. Perbanyakan tanaman Nepenthes dilakukan melalui stek batang, biji dan memisahkan anakan. Umumnya Nepenthes yang hidup terrestrial di dataran rendah tumbuh di tempat-tempat yang berair atau dekat sumber air pada substrat yang bersifat asam. Nepenthes juga membutuhkan cahaya matahari intensif dengan panjang siang hari antara 10-12 jam setiap hari sepanjang tahun, dengan suhu udara antara 23-31°C dan kelembaban udara antara 50-70%.
Manfaat Kantong Semar
Selain semangat tanaman hias Kantong Semar juga memiliki fungsi yang tidak kalah penting, diantaranya :
1.Sebagai Indikator Iklim
Jika pada suatu kawasan atau areal di tumbuhi oleh Nepenthes gymnamphora, berarti kawsan tersebut tingkat curah hujannya cukup tinggi, kelembapan diatas 75 %, tanahnya pun miskin unsur hara
2.Tumbuhan Obat
Cairan dari kantong yang masih tertutup, digunakan sebagai obat batuk.
3.Sumber air minum bagi Petualang
Bagi para pendaki gunung yang kehausan kantong semar jenis N. gymnamphora merupakan sumber air yang layak minum karena pH-nya netral (6-7), tetapi kantong yang masih tertutup, karena kantong yang terbuka sudah terkontaminasi dengan jasad serangga yang masuk kedalam, pH-nya 3 dan rasanya masam.
4.Sebagai Pengganti tali
Batang dari Kantong Semar ini bisa di gunakan sebagai pengganti tali untuk pengikat barang.
Ancaman Si Kantong Semar
Semua jenis Nepenthes adalah dilindungi, akan tetapi keberadaannya sekarang ini sudah semakin sedikit. Habitatnya yang semakin sempit baik itu di karenakan aktifitas manusia secara lansung maupun maupun tidak lansung.
Ancaman terhadap si Kantong Semar :
1.Pembukaan Kawasan Tambang
2.Pembukaan Kawasan Untuk Tambak
3. Eksploitasi jenis untuk di komersilkan
Pesona nephentes kini kian melejit. Banyak penggemar tanaman mulai mengoleksi beragam jenisnya. Keunikan sosok dan sifat menjadi daya tarik utama. Misalnya, kemampuan tanaman memangsa serangga. Meski umum ditemukan di dataran tinggi, tetapi beberapa mampu beradaptasi di dataran rendah. Sayang, merawat agar kantongnya banyak dan memperbanyak nephentes tidaklahlah mudah. Butuh penanganan dan perawatan yang tepat agar tampil prima. Bila tak piawai merawat, biarkan keindahan kantong semar itu berada di habitatnya agar si pemangsa tetap jadi penguasa pegunungan.

NEPHENTES: SI KANTONG NAN IMUT

NEPHENTES: SI KANTONG NAN

Kantong Semar tetap punya fans fanatik. Flora ini digemari bukan saja lantaran warnanya yang indah. Tapi juga karena bentuknya aneh serta tabiatnya yang “nyeleneh”. Ternyata tidak semua suka semut. Ada yang suka rayap. Dan ada pula yang vegetarian alias tidak suka daging.





Klik untuk melihat foto lainnya... Flora ini banyak digemari bukan saja lantaran warnanya yang indah. Melainkan karena bentuknya aneh serta tabiatnya yang “nyeleneh”. Si kantung maut alias Nepenthes adalah tumbuhan yang ditakdirkan menjadi penghuni tanah tandus. Ia hidup di kawasan rawa gambut serta pesisir pantai berbatu-karang. Nepenthes hanya memiliki akar berukuran pendek berjumlah sedikit. Kondisi itulah yang memaksanya menjalani profesi sebagai tumbuhan penyamun. Agar sukses merampok serta membunuh para korban, Nepenthes dikaruniai peranti penyergap berwujud kantung ajaib. Terletak di ujung daun. Organ pembantai itu dilengkapi senjata kimia di dalamnya. Kantung maut yang dimiliki Nephentes dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu kantung atas, kantung antara dan kantung bawah. Kantung atas memiliki helaian daun penutup. Sewaktu daun masih muda, pundi pemangsa tertutup. Lantas, membuka ketika sudah dewasa. Namun bukan berarti kantung penyamun ini menutup sewaktu masih muda saja. Ia menutup diri ketika sedang mengganyang mangsa. Tujuannya supaya proses pencernaan berjalan lancar dan tidak diganggu kawanan musuh yang siap merebut makanan yang sudah ia peroleh. Bibir lubang kantung dilengkapi dengan alat penipu. Organ itu berwarna merah serta mampu menebarkan aroma manis. Binatang penyuka menu bercitarasa manis dan beraroma busuk adalah sasaran empuk bagi Nephentes. Semisal semut dan lalat. Warna bibir nepenthes yang merona serta beraroma manis itu akan memikat dan membuat lengah calon mangsa. Binatang yang terpikat dan bernasib apes tergelincir masuk ke dalam kantung antara yang licin. Cairan yang berada dalam kantung tengah lalu mencerna tubuh mangsa itu. Cairan asam itu taklain adalah ramuan enzim bernama proteolase. Dihasilkan oleh kelenjar di permukaan kantung bawah. Tubuh mangsa naas itu kemudian diolah menjadi garam Posphat dan nitrat. Nah, sekarang berarti periuk maut itu telah menyajikan “sop semut” yang siap diserap oleh Si Nepenthes. Tidak semua jenis Nepenthes memiliki mangsa favorit yang sama. Semut adalah menu kesukaan bagi N. mirabilis. Species kantung semar N. albomarginata adalah pemburu sepesialis rayap. Ada pula species katung semar yang “vegetarian” alias tak suka menyantap daging. Yaitu N. ampullaria. Kantung semar yang satu ini suka melalap guguran dedaunan dari tumbuhan yang berada di atasnya. Sedangkan N. lowii adalah kantung semar yang bermenu favorit kotoran burung. Jika Anda berminat, silakan membeli nepenthes hasil tangkaran. Selain tidak melanggar aturan yang ada, nepenthes hasil tangkaran umumnya lebih mudah hidup ketimbang yang diambil langsung dari alam. Nepenthes hasil budidaya memiliki daun yang bersih. Sebaliknya nepenthes dari alam biasanya berdaun kusam serta banyak bercak kotoran. Meski terkenal suka membunuh, nepenthes adalah jenis mahluk yang dilindungi oleh negara. Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistimnya mengatur peredaran nepenthes. Hanya nepethes yang besaral dari penangkaran yang boleh diperjual-belikan. Pemerintah melanrang perdagangan Nepenthes yang berasal dari alam. Selain itu, nepentes lokal juga dilarang hijrah ke luar negeri. Ada banyak bentuk kantung yang bisa ditemukan. Mungil, bongsor langsing, dan pendek gembrot. Pola warnanyapun berraneka ragam. Ada yang bermotif loreng-loreng merah, merah menyala, dan hijau. Umumnya kantung berwarna indah dimiliki oleh jenis nepenthes dataran tinggi yang berhawa dingin. Ada sekitar 82 jenis nepenthes yang tumbuh di muka bumi. 64 di antaranya merupakan tumbuhan endemik Indonesia. Kalimantan adalah kerajaan nepenthes. Di pulau suku Dayak itu hidup sekitar 32 jenis nepenthes. 29 jenis lain merupakan hartakarun hayati yang tersimpan di Sumatera.Secara garis besar, jenis nepenthes dibedakan menjadi dua. Yaitu nepenthes dataran tinggi serta nepenthes dataran rendah. Berbagai jenis nepenthes dataran tinggi diantaranya yaitu N. burbidgeae, N. Lowii, N. Rajah, N. Villosa, N.Fusca, N.Sanguinea. Mereka adalah penghuni daerah pegunungan berketinggian lebih dari 100 m di atas permukan air laut. Kisaran suhu malam hari yang dibutuhkan yaitu 20 – 12ºC. Sedang kisaran suhu siang hari antara 25 – 30ºC. Jenis nepenthes dataran rendah diantaranya yaitu N. alata, N. egmae, N. khasiana, N. mirabilis, N. ventricosa, N. ampullaria, N. bicalcarata, N. gracilis dan N. Maxima. Mereka tumbuh subur di dataran berketinggian 0 – 500 m di atas permukaan air laut. Nepenthes dataran rendah biasanya bersifat epifit menempel di batang pepohonan. Namun ada juga yang hidup secara terestrial di atas tanah bercampur sersah dedaunan. Suhu harian yang dibutuhkan berkisar antara 22 – 34º C. Sementara itu, kelebaban udara yang diinginkan yaitu 70 – 95%. Nepenthes berkembang biak secara vegetatif menggunakan anakan dan secara generatif menggunakan biji. Tumbuhan karnivora ini termasuk jenis flora berumah dua. Artinya, tiap tanaman hanya memiliki satu jenis kelamin bunga. Jadi biar bisa menghasilkan keturunan, ia musti melakukan perkawinan silang. Hal itulah yang menyebabkan banyak terdapat species Nepenthes yang terlahir dari hasil persilangan alami. Perbanyakan secara vegetatif menggunakan anakan lebih mudah dilakukan.. Bayi nepenthes tumbuh di batang bagian bawah. Tanaman muda itu siap disapih alias dipotpong dari induknya jika sudah memiliki jumlah akar yang banyak. Setelah dipotong, ia harus segera ditanam menggunakan media berbahan baku campuran sepagnum moss dan butiran zeolith. Perbandingannya 4 : 1. Spagnum moss dan zeolith bisa dibeli dari toko pertanian. Nepenthes lebih senang disuguh binatang daripada pupuk kandang atau pupuk buatan. Warna kantungnya justru akan semakin menawan dan besar jika media tanamnya miskin hara alias tak subur. Berkat kantung maut itu Anda tak perlu lagi repot-repot meramu pupuk untuk Si nepenthes. Ukuran kantung maut malah kian menciut jika Anda memaksakan diri menjejali nepenthes dengan pupuk. Kantung semar adalah tanaman penyuka air. Jatah penyiraman tidak boleh terlambat. Media tanam wajib selalu dalam keadaan basah. Jika hal itu diabaikan, daun nepenthes bakal keriting dan bahkan bisa menuai ajal. Nepethes yang ditanam secara indoor harus disiram sebanyak 2 – 3 hari sekali. Sementara itu jatah air sebanyak 1 hari sekali diberikan bagi nephaenthes yang ditanam di luar ruangan. Syarat tumbuh lain yaitu sinar matahari penuh. Tumbuhan pemangsa ini setiap hari harus mendapat jatah sinar matahari selama 10 – 12 jam. Intensitas sinar matahari yang baik yaitu sebesar 50%. Kondisi seperti ini bisa dibuat dengan jalan memberikan naungan. Selamat berkebun dan mengoleksi Kantung Semar.


sumber : langitlangit.com

KANTONG SEMAR: TANAMAN UNIK PEMBAWA HOKI


Tak hanya penampilan istimewa, tanaman ini juga menyimpan potensi bisnis yang patut diperhitungkan. Bentuknya unik. Ada yang bilang mirip tokoh pewayangan Semar dengan perut buncitnya. Lantaran itulah, tanaman ini diberi nama kantong semar.



Klik untuk melihat foto lainnya... Tak hanya penampilan istimewa, tanaman ini juga menyimpan potensi bisnis yang patut diperhitungkan. Bentuknya terbilang unik. Mengantong dan membulat di bagian ujung. Ada yang bilang mirip tokoh pewayangan Semar dengan perut buncitnya. Lantaran itulah, tanaman ini diberi nama kantong semar. Sekitar dua setengah tahun silam, 'demam' kantung semar mulai mewabah di Indonesia. Mulanya pada 2004 ketika sebuah majalah hobi terkemuka memopulerkan kembali tanaman ini lewat edisi akhir tahunnya. Seperti bola salju, media-media lainnya ikut mengekor. Puncaknya adalah pada 17 Agustus 2005 saat keelokan tanaman yang punya nama ilmiah nepenthes spp ini secara khusus dipamerkan di Istana Merdeka saat HUT RI ke-60. Bila akhirnya kantong semar mendapat predikat sebagai tanaman unik, agaknya ini tak berlebihan. Bentuk kantong dan corak warnanya mengandung nilai artistik tinggi. Bahkan, bersama amorphophallus dan bunga bangkai (raflessia), kantong semar termasuk jajaran 'elite' karena disebut sebagai tanaman hias unik. Keunikan itu pula yang membuat Abdul Kadir terpikat pada si kantong semar. ''Saya kadung jatuh hati pada bentuk kantong nepenthes yang unik dan beragam,'' ujar pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat. Tak kurang dari 1.300 pot kantong semar dikoleksi Abdul Kadir sejak dua tahun silam. Jutaan rupiah ia habiskan untuk hobi anyarnya itu. Sebagian besar koleksinya ia perjualbelikan pula. Sejak kecil Abdul Kadir memang telah akrab dengan tanaman yang disebut 'periuk kera' di tempat kelahirannya, di Pontianak. Ia mulai melirik kembali kantong semar saat ia kuliah di IPB. Akan tetapi, ia mulai serius mengumpulkan sekitar dua tahun silam. Tak kurang dari 24 jenis nepenthes ia miliki kini. Sebagian besar koleksinya disimpan di penangkaran kantong semar di Pontianak. Adapula yang ditaruh di lokasi nepenthes di Cipayung, Puncak, termasuk pula di ruang pamer nepenthes di bilangan Slipi, Jakarta, dan rumahnya di Bogor.
Namun, Melvin Rossa punya alasan lain untuk menyukai kantong semar. ''Ia jenis karnivora yang pasif,'' ujar Melvin, pencinta nepenthes di Jakarta. Tabiat karnivora merupakan keunikan tersendiri nepenthes. Ini yang membikin orang bangga memelihara kantong semar. Seperti halnya Melvin. Sekitar 400 pot kantong semar mendiami rumah Melvin yang meliputi tak kurang dari 40 jenis yang berasal dari pulau-pulau Indonesia dan mancanegara (terutama impor dari Srilanka dan Malaysia). Selama proses perburuan selama tiga tahun, Melvin menghabiskan puluhan juta rupiah. Maklum saja, ada kantong semar asal Borneo yang harganya di atas sepuluh juta rupiah. Adapula yang harganya cuma Rp 3 atau 5 juta saja. Apakah Melvin tak khawatir koleksinya layu lantas mati? Ia menyatakan bahwa itu risiko dari sebuah hobi. ''Semua pencinta tanaman tahu itu. Hilang dicuri, juga risiko kan? Itu biasa,'' tutur Melvin, seorang pengusaha kapal, yang sejak kuliah sebetulnya sudah mulai jatuh hati pada keunikan nepenthes. Mohamad Apriza Suska juga punya kecintaan serupa pada nepenthes. Ketertarikan pada kantong semar bermula ketika dia magang di rumah kaca terbesar di Ohio State University, AS pada 2003. Saat ini ada lebih dari 80 jenis tanaman karnivora ini yang dikoleksi dan dibudidayakan di kediamannya di desa Ciderum, Caringin, Bogor. Ia juga mengimpor dari Srilanka, Malaysia, Filipina, Jerman, hingga Belanda. Sebagian jadi koleksi pribadinya, sebagian ia jual lagi. Tampaknya, kantong semar tak sekadar menjadi tanaman yang pantas dikoleksi. Kantong semar juga merupakan tanaman pembawa rezeki. Setidaknya inilah yang dialami Abdul Kadir. Dari seratus lusin koleksinya, ada satu yang paling favorit. Sebuah nepenthes jenis bicalcarata yang tinggi kantongnya 30 cm dengan volume setara dua botol minuman ringan bersoda. Warnanya merah menyala. Tanaman ini ia temukan di pedalaman Pontianak dan ia besarkan selama dua tahun hingga pesonanya memancar kuat. Sebetulnya, bukan keelokan warna yang membikin spesies bicalcarata amat khas. Tapi, dua pucuk menyerupai 'taring' yang menggantung di atas perutnya. Seringai sepasang taring ini tak bakal Anda jumpai pada seluruh 82 spesies nepenthes. Bila dipandang sekilas, ''Ia tampak seperti kepala naga, bukan?'' kata Abdul Kadir. Ketika akhirnya bicalcarata kesayangannya ditawar orang pada awal Januari tahun silam, Abdul Kadir pun mendapat rezeki. ''Dilepas 13 juta rupiah,'' kata laki-laki lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini. Suska pun punya perasaan serupa. Suska melabeli kantong semar dagangannya dengan sebutan 'kantong semar rezeki'. ''Sebagian percaya memelihara kantong semar bisa mendatangkan rezeki, he he,'' ujar pemilik Suska Nurseri ini sumringah. Boleh percaya, boleh tidak. (Imy)


Sumber : langitlangit.com


(Plantamor, http://www.plantamor.com/artdtail.php?artindx=5)

Kantong Semar menurut wikipedia




Genus Nepenthes (Kantong semar, bahasa Inggris: Tropical pitcher plant), yang termasuk dalam familia monotypic, terdiri dari 80-100 spesies, baik yang alami maupun hibrida. Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis Dunia Lama, kini meliputi negara Indonesia (55 spesies, 85%), Republik Rakyat Cina bagian selatan, Malaysia, Filipina, Madagaskar, Seychelles, Australia, Kaledonia Baru, India, dan Sri Lanka. Habitat dengan spesies terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatra.

Tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan cara memanjat tanaman lainnya. Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam.

Kamis, 25 September 2008

Rahasia Sukses Perbanyak Kantong Semar


Umumnya, budidaya nepenthes dilakukan di greenhouse oleh para penangkar. Namun jika mau, Anda bisa mencobanya di rumah, asal tahu trik-triknya. Nepenthes yang mudah dibudidayakan adalah N. alata, N. ventricosa, N. khasiana, dan N. sanguinea. Keempatnya adalah jenis nepenthes dataran tinggi. Sedangkan untuk kantong semar dataran rendah, jenis yang relatif paling mudah dibudidayakan adalah N. rafflesiana, N.bicalcarata, N.mirabilis, dan N.hirsuta.
Tanaman nepenthes bisa diperbanyak dengan menggunakan berbagai cara. Yang pertama dengan menggunakan biji. Biji didapat dengan cara menyerbuki bunga betina dengan serbuk sari bunga jantan. Penyemaian biji dilakukan pada media sphagnum moss yang dilembabkan. Kelembaban harus dijaga dengan seksama agar tidak terlalu kering atau terlalu lembab sehingga terinfeksi oleh cendawan. Untuk memperbaiki kualitas aerasi dan mencegah kelembaban, campur sphagnum moss dengan pakis anggrek atau perlite (komposisi 1:1). Biji akan berkecambah maksimal sampai dua bulan dan butuh waktu 3—4 tahun untuk mencapai ukuran dewasa. Selain karena lama, metode ini kurang populer karena kualitas biji nepenthes umumnya cepat menurun segera setelah dipanen.
Untuk metode stek, media yang bisa digunakan adalah sphagnum moss atau moss hijau untuk merangkai bunga. Media ini bagus karena bisa mengikat air dalam jumlah banyak. Stek dilakukan dengan cara memotong batang tanaman dewasa yang telah memanjang, dapat berupa pucuk atau bagian batang lain yang masih berwarna hijau. Bahan stek dapat berupa stek satu mata hingga lebih dari lima mata tunas. Ingat, untuk meletakkan stek-stek ini di lokasi yang ternaungi tetapi tetap mendapat sinar matahari. Anda bisa menggunakan paranet untuk mengatur jumlah sinar yang masuk. Dengan metode ini, batang stek akan mulai berakar setelah 1-2 bulan, dan mencapai ukuran dewasa setelah 6 bulan. Umumnya, nepenthes tidak memerlukan hormon tambahan untuk merangsang perakaran. Namun pada beberapa spesies, hormon dapat membantu mempercepat perakaran. Kelebihan hormon dapat menyebabkan stek menjadi busuk. Pemisahan anakan juga dapat dilakukan untuk memperbanyak nepenthes. Nepenthes umumnya mengeluarkan anakan setelah tanaman cukup dewasa. Anakan dipisah dari induknya jika telah memiliki akar sendiri.
Nepenthes juga bisa diperbanyak dengan cara mencangkok. Proses pencangkokannya sama seperti cara mencangkok tanaman berkayu lainnya. Selain itu, nepenthes juga bisa diperbanyak dengan cara “merunduk”. Caranya adalah dengan menimbun sulur nepenthes yang memanjang dengan media tanam. Bagian yang ditimbun adalah bagian ruas-ruas batang yang berpotensi menghasilkan akar. Lama kelamaan, bagian ini akan berakar dan nepenthes hasil rundukan siap dipisahkan dari induknya.
Kultur jaringan, adalah metode yang paling umum dipakai saat ini, khususnya oleh penangkar yang memiliki nursery. Alasannya, caranya terhitung mudah, waktu produksi yang lebih singkat, dan resiko kegagalan yang relatif lebih kecil. Produksi yang tergolong “massal” ini bisa menekan harga jual nepenthes. Karenanya, cara ini juga mengurangi pengambilan kantong semar langsung dari alam bebas untuk dijual.

http://www.kompas.com

Senin, 22 September 2008

Apa itu Tanaman Karnivora

Written by ma_suska

Friday, 18 April 2008 14:26


Definisi sederhana dari tanaman karnivora adalah semua tanaman yang memangsa binatang sebagai sumber nutrisinya.
Dahulu, tanaman karnivora disebut sebagai tanaman insektivora karena umumnya hanya serangga saja yang menjadi mangsanya. Tetapi setelah ditemukan tengkorak tikus dan kadal dalam beberapa kantung Nepenthes rajah dan beberapa jenis nepenthes lainnya, maka sekarang lebih banyak orang yang menyebut jenis tanaman ini sebagai tanaman karnivora.
Menurut Givnish et al. (1984), untuk digolongkan sebagai tanaman karnivora, tanaman tersebut harus memenuhi dua kriteria. Yakni:
Tanaman ini harus dapat menyerap nutrisi dari binatang yang telah mati yang ada pada permukaan bagian tanamannya, dan dapat meningkatkan pertumbuhan, kesempatan bertahan hidup, produksi pollen, atau biji.
Tanaman ini harus memiliki beberapa adaptasi searah untuk melakukan atraksi aktif, menangkap dan mencerna mangsa.


Di bumi ini terdapat setidaknya 600 spesies yang berasal dari 15 genus yang termasuk ke dalam tanaman karnivora. Kedua puluh genus tersebut terbagi menjadi anggota 7 keluarga (family). Beberapa tanaman lain dari genus Brocchinia, Catopsis, Paepalanthus (Bromeliaceae) , Roridula, Craniolaria,Ibicella, Martynia, Proboscidea dan yang lainnya juga digolongkan sebagai tanaman karnivora oleh beberapa ahli. Namun karena mereka tidak memproduksi enzim pengurai, maka banyak pula yang meragukan mereka sebagai tanaman karnivora. Tanaman karnivora tumbuh menyebar di permukaan bumi, di seluruh benua, kecuali di benua Antartika. Mulai dari hutan hujan tropis, hingga dinginnya Alaska. Namun pada umumnya, tanaman karnivora hidup di tempat dimana banyak tanaman lain tidak dapat bertahan hidup, bercirikan kondisi tumbuh yang miskin hara dan banyak mengandung air.


(ma_suska)


Nepenthes: Antara Kesempatan dan Ancaman

Written by Tim Nepenthes Sumatra

Thursday, 10 April 2008 14:32


Nepenthes, tumbuhan berkantong unik ini pasti menarik para kolektor tumbuhan di Indonesia. Bukan hanya itu, si “Kantong Semar” inipun diminati oleh kolektor luar negeri setelah sekian lama terlupakan begitu saja. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peranan media yang intensive memberitakan keberadaannya, sebut saja Trubus, Flona, Kompas dan media lainnya. Istana presiden pun sempat dihiasi rangkaian kantong tumbuhan ini. Para hobbies dan grower Nepenthes mulai bangga menunjukkan koleksi yang mereka punya dan melahirkan peminat-peminat baru yangtidak sedikit jumlahnya. Para kolektor latah pun mulai membiasakan diri membeli tumbuhan ini dari pameran atau expo tumbuhan hias yang digelar beberapa institusi. Ulasan tentang Nepenthes nyaris tidak terhenti dalam beberapa bulan terakhir dan mengambil alih perhatian pencinta tanaman hias lainnya untuk sementara waktu seperti pencinta tanaman jenis Euphorbia dan Aglaomorpha yang sempat melejit di akhir tahun 2005.

Walau tidak terdefinisikan dengan jelas ada 3 kelompok pencinta nepenthes yang ada di Indonesia, anatara lain:
1. Kelompok pertama: Peneliti Nepenthes Umumnya bermain di lingkungan perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Jumlahnya sedikit dan tidak begitu terekspos media.
2. Kelompok kedua: Peneliti dan praktisi Nepenthes Komunitas ini kebanyakan berisi pencinta Nepenthes, hobbies, grower, praktisi tanaman hias dan beberapa perguruan tinggi yang menaruh perhatian terhadap tumbuhan ini. Kelompok ini mempunyai komunitas yang paling besar dan keberadaanya mulai terangkat kepermukaan. Dalam kelompok ini berkumpul beberapa anggota yang beragam, majemuk dengan orientasi masing-masing yang belum bisa diprediksi dengan jelas. Ada yang hanya sekedar hobi, ada yang mengembangkan pemanfaatan berkelanjutan dan ada yang pure conservationist. Kelompok ini belakangan sangat diminati media untuk diekspos keberadaannya.
3. Kelompok ketiga: Pebisnis Nepenthes Naiknya popularitas si ”Kantong Semar” jelas dianggap sebagai peluang pasar yang harus dicermati dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Terlebih tumbuhan ini sudah mempunyai nama besar di negara-negara besar diluar Indonesia. Hampir semua jenis asli Nepenthes Indonesia sudah tersebar di negara-negara di Eropa, Amerika dan Jepang. Kelompok ini berada dalam lingkaran abu-abu, di satu sisi berjuang untuk pelestarian Nepenthes, disisi lain mencabut dan mengumpulkan berpuluh puluh Nepenthes liar yang tumbuh di alam untuk menebalkan kantong dengan mengambinghitamkan pembukaan ladang dan masyarakat lokal.


Nepenthes punya peluang besar untuk dimanfaatkan, itu sudah disadari jauh-jauh hari oleh pebisnis, pencinta dan praktisi tanaman hias. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memproklamirkan keberadaannya. Ada ancaman kepunahan dibalik besarnya manfaat yang bisa diambil, itu pun sudah disadari lama oleh para ahli di institusi-institusi penelitian. Sebagai bukti perlindungan dirumuskannya bentuk undang-undang. Namun undang-undang ini seakan hanya sebuahpengumuman. Karena sejauh ini perlindungan Nepenthes belumlah terlaksana dengan baik, terbukti adanyapenurunan populasi dan kerusakan habitat alami Nepenthes. Tanaman yang dilindungi inipun bernasib sama dengan berbagai macam tanaman hias lainnya. Dijajakan di di pinggir jalan dengan harga yang lumayan. Lalu bagaimana dengan status perlindungannya? Siapa yang harus dan berkewajiban melindunginya?

Informasi lebih lanjut silakan menghubungi: Nepenthes Team, Email:
sumatrannepenthes@yahoo.com

This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it


Daftar bacaan/literatur :



Camillleri, T. 1998. Carnivorous Plants. Kangaroo Press. East Roseville, NSW. Clarke, C. 1997. Nepenthes of Borneo. Kota Kinabalu. Clarke, C. 2001.

Nepenthes of Sumatra and Peninsular Malaysia. Kota Kinabalu. Danser, B.H. 1929.

The Nepenthaceae of the Netherlands lndies. Bulletin de Buitenzorg, series III, Vol.IX, 249-438. Jebb, M.H.P. & M. Cheek. 1997.

A Skeletal Revision of Nepenthes (Nepenthaceae). Blumea 42(1):1-106 Pietropaolo, J. & P.Pietropaolo. 1986.

Carnivorous Plants of The World. Timber Press. Oregon Slack, A. 2000. Carnivorous Plants.MIT Press

Sumber : http://rd.comlabs.itb.ac.id/temp/ktki/

Kamis, 18 September 2008

Carnivorous plants: Dramatic, but not the great whites of the plant world



12:00 AM CDT on Friday, August 29, 2008
From Staff and Wire Reports Albany Times Union
They're creepy and they're spooky; some folks consider them to be bordering on the macabre.
Carnivorous pitcher plants (in back) and Venus flytraps attract and capture dinner in different ways.


Staff photo Carnivorous pitcher plants (in back) and Venus flytraps attract and capture dinner in different ways.
Kids can tell you that few plants capture a youthful imagination more completely than a Venus flytrap.
Believe it or not, more than 600 species of meat-eating, a.k.a. carnivorous, plants have been documented. Sadly though, some are extinct due to the destruction of their natural habitats from development or over-collection by zealous humans.
Unlike Hollywood's caricature of humongous plants chasing down and engulfing fleeing creatures, true carnivorous plants are a bit more reserved in their behavior.
Carnivorous plants are often found growing in areas where insect activity is high and soil nutrient value is low, two important environmental characteristics that help to ensure their survival. However, to be a full-fledged, honest-to-goodness carnivorous plant, it must be able to attract prey, capture it, digest it and finally utilize the nutrients extracted from the carcass.
Foliage colors, some only apparent to insect eyes due to their ultraviolet or translucent color patterns, glistening water droplets reflecting the sun, sweet fragrances, putrid odors or the shape of the leaf or blossom are what the insects find irresistible and are all methods used by carnivore plants to attract their prey. Once the plant has caught the bug's attention, it needs to somehow retain it.
Capture has many forms. Some plants exude a sticky substance from their stems, leaves or flowers that glues the inquisitive insect to the plant. The sundew is an example of a plant that captures with this method; its leaf hairs glisten in the sun. Sundews can be found on nearly every continent except Antarctica.
The pitfall trap is utilized by the pitcher plant, which can be found growing in habitats throughout eastern North America. Many insects are lured into the tunnel-shaped leaf by the odor of other decaying insects or the flower's color. Once inside, they meet their demise as slippery walls send them down to a reservoir of drowning water.
Memorable plants
The snap trap is the Venus flytrap's claim to fame. Tiny, highly sensitive hairs line the crease of the trap. When the mild-mannered insect touches the hairs, the halves fold closed, trapping it inside. The Venus flytrap was once a common sight through North and South Carolina, but due to land development and man's keen interest in the species, its native habitats are dwindling quickly.
Rick Archie of Archie's Gardenland in Fort Worth remembers growing carnivorous plants indoors when he was 13. The Venus flytrap prefers live flies, he says, and it's fascinating to watch them. "After digesting in two weeks, the fly's little skeleton is dropped out as the lobe reopens," he says.
For further proof of the Venus flytrap's appeal to children, Kimberly Bird of Calloway's Nursery points to the Judy Moody children's book series.
"The main character, Judy, has a Venus flytrap. Her brother, Stink, almost kills it by giving it a lump of raw hamburger meat. But she took the smelly plant to school anyway for show and tell."
Ms. Bird brought home a Venus flytrap and her daughter, Lily, 8, has deemed herself official caretaker.
The largest genus of carnivorous plants utilizes a bladder-like trap; hence, their common name, bladderwort.
Found in fresh water and where soils remain continually wet, again on every continent except Antarctica, this species uses those receptive fine hairs as does the Venus flytrap. But rather than clamping down on its prey, the hairs trigger a trap-door mechanism that opens. This creates a suction that draws the prey and surrounding water inside, closing the door behind it. The whole operation can happen in 1/30th of a second.
Whichever trap is used, the insect's chances of escape are slim. All that's left is the digestion process.
You might be surprised to find these plants use many of the same digestive enzymes humans use. Amylase (found in human saliva) and protease (found in the stomach) are examples of two of the enzymes plants secrete to help digest their prey.
Even cooler, a byproduct of this digestion process is nitrogen, and true carnivorous plants utilize this nitrogen for growth. The nitrogen they gain from the digestion of their prey makes up for the insufficient amount of nitrogen available in the soil. Bottom line, they cannot absorb enough nitrogen to live on soil alone, nor can they live on insects alone; they are dependent on both sources for survival.
The largest carnivorous plant belongs to the genus Nepenthes. Found in Asia, it's a large vine that has numerous large pitfall traps big enough to hold large frogs and rodents.
Terrarium life
Mr. Archie advises growing the plants in a terrarium with acidic, loose soil of primarily sphagnum moss and peat moss. Water the plants with distilled water or rainwater. A lidded terrarium makes it easier to add live flies. "You can watch for hours to see where they go," he says.
Poke a small hole in the lid to control humidity; too much moisture kills the plants, he says.
The dining habits of the Venus flytrap hold a special fascination for Mr. Archie's younger customers. "Once a week I explain this to some 10-year-old kid who listens carefully while the parents shrug their shoulders," he says.
Albany Times Union
Where to buy
Tiny Venus flytraps are the most commonly available carnivorous plants. Look for them at Lowe's and Home Depot in the small-succulents displays. Independent nurseries stock limited inventories of Venus flytraps and other hard-to-find species. Call for current inventory.
Archie's Gardenland, 6700 Camp Bowie Blvd., Fort Worth
Calloway's, multiple locations
Nicholson-Hardie, 5725 W. Lovers Lane, Dallas
North Haven Gardens, 7700 Northaven Road, Dallas
Petal Pusher's Garden Emporium, 813 Straus Road, Cedar Hill
Sunshine's Miniature Trees, 7118 Greenville Ave., Dallas

Asal-usul Nama Spesies Nepenthes

Asal-usul Nama Spesies Nepenthes

Berikut adalah tulisan Bpk Sofyan David (sofyandavid@yahoo.com) salah satu pakar dalam hal Nepenthes yang berasal dari Bandung :
Berikut adalah nama-nama spesies Nepenthes beserta arti dan asal-usulnya. Kebetulan saya juga berprofesi sebagai penterjemah, khususnya untuk tulisan-tulisan yang berhubungan dengan botani.Bahan ini saya kumpulkan dan terjemahkan dari Wikipedia, disertai tambahan seperlunya. Sebagai contoh dalam artikel asli hanya disebutkan bahwa Junghuhn adalah ahli botani, sehingga saya tambahkan kebangsaannya (Jerman), begitu juga Adrian Yusuf saya tambahkan dia berkebangsaan Indonesia. Walaupun demikian belum jelas apakah beliau ini sebaiknya disebut sebagai ahli botani, penjelajah, kolektor atau naturalis.Beberapa nama tempat asal Nepenthes tertentu juga saya lengkapi. Misalnya saya jelaskan bahwa Perbukitan Khasi itu berada di India.Beberapa nama spesies saya beri pengertian khusus di luar yang diberikan Wiki. Misalnya inermis adalah bahasa Latin yang diartikan Wiki sebagai unarmed atau "tak bersenjata", meskipun demikian saya terangkan bahwa dalam hal Nepenthes, itu berarti "tak berduri". Selain itu saya menemukan kesalahan dalam deskripsi Nepenthes boschiana versi Wikipedia. Menurut Wikipedia, nama bosch diambil dari nama seorang botanist bernama Bosch, padahal yang sebenarnya adalah: ditemukan pada tahun 1839 oleh botanis Belanda bernama P.W. Korthals dan dinamakan menurut Gubernur Jendral Hindia Belanda Van Den Bosch. Bagi yang memerlukan naskah asli terjemahan teks dalam bentuk pdf atau MS Word silakan menghubungi saya di: dave@inti.co.id
Semoga dengan memahami leksikologi spesies-spesies Nepenthes ini kita akan dapat mempelajari dan mengenal Nepenthes dengan lebih mudah.

Salam Nepenthes,

Sofyan D.

ASAL-USUL NAMA SPESIES NEPENTHES

adnata = Latin: adnatus = tumbuh pada sesuatu atau menempel pada sesuatu, mengacu pada pertumbuhan daun di mana bagian pangkal daun memanjang ke bawah dan membentuk sayap di sepanjang batang (seperti memeluk batang).

* ampullaria = Latin: ampulla = kantung yang menyerupai botol.

aristolochioides = Latin: Aristolochia = suatu genus tanaman perdu dan merambat, -oides = menyerupai.

gymnamphora = Latin: gymnos = telanjang, amphoreus = kantung.

gracilis = Latin:gracilis = tipis, ramping.

mirabilis = Latin: mirabilis = menakjubkan.

northiana = dari nama Marianne North, ilustrator pertama spesies ini.

truncata = Latin: truncatus = berakhir dengan tiba-tiba, mengacu pada bentuk ujung daun yang datar, tidak bersudut, seperti terpotong.

*khasiana = dari nama Perbukitan Khasi, India, di mana spesies ini endemik.

edwardsiana = dari nama George Edwards, Gubernur Kolonial Belanda di Labuan.

adrianii = dari nama Adrian Yusuf, orang Indonesia yang menemukannya di tahun 2004.rafflesiana = dari nama Stamford Raffles, pendiri Singapura.

reinwardtiana = dari nama K. G. K. Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor.

eustachya = Yunani: eu = sejati, stachys = duri; mengacu pada struktur perbungaan.

campanulata = Latin: campana = lonceng.

bicalcarata = Latin: bi = dua, calcaratus = taji.

junghuhnii = dari nama Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, ahli botani Jerman yang mengoleksinya antara tahun 1840 dan 1842.

clipeata = Latin: clipeus = perisai bulat; mengacu pada bentuk daun.

veitchii = dari nama George Veitch, pembibit di Veitch Nursery, Inggris.

rajah = dari nama White Rajah (Raja Putih), yaitu dinasti yang mendirikan dan memerintah Kerajaan Sarawak dari tahun 1841 sampai 1946.

hookeriana = dari nama Joseph Dalton Hooker, ahli botani Inggris yang hidup antara tahun 1817 dan 1911.

albomarginata = Latin: albus = putih, marginatus = tepi, pinggiran

sanguinea = Latin: sanguineus = merah darah

hirsuta = Latin: hirsutus = berbulu, berduri

spectabilis = Latin: spectabilis = terlihat, tampak

mira = Latin: mirus = menakjubkan

faizaliana = dari nama anak laki-laki penulis dan ahli biologi Malaysia M. Kh. Faizal.

maxima = Latin: maximus = sangat besar

hispida = Latin: hispidus = diliputi bulu-bulu yang kaku atau kasar, beronak

spathulata = Latin: spathulatus = berbentuk sudip (spatula).

inermis = Latin: inermis = tak bersenjata (tak berduri).

sumatrana = dari nama pulau Sumatera, di mana spesies ini endemik.

fusca = Latin: fuscus = cokelat tua, berkulit gelap.

lowii = dari nama Hugh Low, naturalis dan administrator Kolonial Kerajaan Inggris.

ventricosa = Latin: ventricosus = membengkak (membesar) di satu sisi.

saranganiensis = Latin: sarangani = Propinsi Sarangani, Pilipina, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

talangensis = Latin: talang = Gunung Talang di Sumatra Barat, -ensis = dari.

mollis = Latin: mollis = lunak; mengacu pada rambut-rambut penutup.

alata = Latin: alatus = bersayap.

chaniana = dari nama C.L. Chan, Direktur Natural History Publications (Borneo).

insignis = Latin: insignis = lain dari yang lain, istimewa.

macrophylla = Latin: macro = besar, phylla = daun-daun.

klossii = dari nama H. S. Kloss, yang menemukannya pada tahun 1913.

diatas = Indonesia: di atas.

jamban = Indonesia: jamban = toilet.

jacquelineae = dari nama Jacqueline Clarke, isteri Charles Clarke, ahli botani dan ahli taksonomi spesialis genus Nepenthes berkebangsaan Australia

bongso = Indonesia: bungsu = dari cerita rakyat Puti Bungsu di Sumatera Barat.

anamensis = Latin: anam = Propinsi Annam, nama propinsi yang diberikan oleh Cina untuk wilayah Vietnam bagian utara yang dulu dikuasai Cina, -ensis = dari.

copelandii = dari nama E. B. Copeland, kurator di Manila Herbarium.

mapuluensis = Latin: Mapulu = Gunung Ilas Mapulu di Kalimantan Timur, -ensis = dari.

muluensis = Latin: mulu = Gunung Mulu di Sarawak, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

murudensis = Latin: murud = gunung Murud di Sarawak, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

izumiae = dari nama Izumi Davis, isteri Troy Davis, penggemar dan kolektor Nepenthes.

tenuis = Latin:tenuis = tipis, halus, ramping.

mikei = dari nama Mike Hopkins, sahabat B. Salmon & R. Maulder.

tobaica = dari nama Danau Toba di Sumatera Utara.

danseri = dari nama B. H. Danser, ahli botani dan taksonomi berkebangsaan Belanda (1891-1943) yang mengkhususkan diri pada genus Nepenthes

tomoriana = dari nama Teluk Tomori di Sulawesi, tempat asalnya.

boschiana = dari nama Graaf Johannes Van Den Bosch, Gubernur Jendral Hindia Belanda yang ke 43. Ia memerintah antara tahun 1830 – 1834. Spesies ini ditemukan pada tahun 1839 oleh ahli botani Belanda bernama P.W. Korthals.

beccariana = dari nama Odoardo Beccari, naturalis berkebangsaan Italia yang hidup antara tahun 1843 dan 1920, penemu tanaman Amorphophallus titanum (bunga bangkai) di Sumatera pada tahun 1878.

longifolia = Latin: longus = panjang, folius = daun

sibuyanensis = Latin: sibuyan = Pulau Sibuyan di Pilipina, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari

hamata = Latin: hamatus = berbentuk seperti kait atau paruh

ramispina = Latin: ramus = cabang,spina = duri, taji

dubia = Latin:dubius = meragukan

globosa = Latin: globosus = berbentuk bulat, seperti bola

papuana = dari nama Papua, propinsi di Indonesia di mana spesies ini endemik

pilosa = Latin: pilosus = berbulu

vogelii = dari nama Dr. E. F. de Vogel, ahli botani spesialis tumbuhan paku-pakuan dan anggrek berkebangsaan Belanda.

vieillardii = dari nama Eugene Vieillard, ahli botani berkebangsaan Perancis, yang mengumpulkan tanaman dari Kaledonia Baru dan Tahiti antara 1861 sampai 1867.

paniculata = Latin: panicula = malai (kelompok bunga).

densiflora = Latin: densus = rapat, florus = bunga.

distillatoria = Latin: destillo = menyuling, -oria = bentuk kata sifat; tempat menyimpan cairan untuk disuling, periuk.

argentii = dari nama George Argent, ahli biologi Skotlandia yang pertama kali mengumpulkannya di Palawan, Pilipina.

angasanensis = Latin: angasan = nama Puncak Angasan di Aceh, -ensis = dari.

bellii = dari nama C. R. Bell, ahli botani berkebangsaan Amerika Serikat.

borneensis = Latin: borneo = dari nama Borneo (Kalimantan), asal spesies ini, -ensis = dari.

benstonei = dari nama Benjamin C. Stone (1933-1994), ahli botani berkebangsaan Amerika Serikat.

burbidgeae = dari nama isteri Frederick William Burbidge, penjelajah Inggris abad ke 19 yang mengumpulkan berbagai tanaman tropis untuk Veitch Nursery, Inggris. Burbidge adalah orang yang dianggap berjasa membudidayakan Nepenthes rajah pertama kali.

burkei = dari nama Burke, ahli botani berkebangsaan Inggris.

carunculata = Latin: caruncula, bentuk kecil dari caro = daging; mengacu pada tonjolan yang terdapat pada biji.

deaniana = dari nama Dean C. Worcester (1866 - 1924), ahli zoologi berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah menjadi anggota Komisi Amerika Serikat di Pilipina (United States Philippine Commission).

ephippiata = Latin: ephippium = pelana, iata = berbentuk.

eymae = dari nama P. J. Eyma, ahli botani yang bekerja di Suriname dan Hindia Belanda.

glabrata = Latin: glaber = botak.glandulifera = Latin: glandis = kelenjar, ferre = mengandung, membawa.

gracillima = Latin: bentuk komparatif dari gracilis = ramping.

hurrelliana = dari nama Andrew Hurrell, ahli botani.

lamii = dari nama Herman Johannes Lam (1892-1977), ahli botani berkebangsaan Belanda.

lavicola = Latin: lavicola = tumbuh di atas lava, mengacu pada tempat tumbuh alaminya yaitu di bebatuan vulkanik.

macfarlanei = dari nama John Muirhead Macfarlane (1855–1943), ahli botani berkebangsaan Skotlandia.

macrovulgaris = Latin: macro = besar, vulgaris = umum.

madagascariensis = Latin: madagascar = Pulau Madagaskar, -ensis = dari.

masoalensis = Latin: Masoal(a) = nama tanjung di Madagaskar, -ensis = dari.

merrilliana = dari nama Elmer Drew Merrill (1876-1956), ahli botani berkebangsaan Amerika Serikat.

mindanaoensis = Latin: Mindanao = pulau di Pilipina, di mana spesies ini endemik, -ensis = dari.

neoguineensis = Latin: Neo Guine = New Guinea (Nugini), -ensis = dari.

ovata = Latin: ovatus = bulat telur, mengacu pada daun yang berbentuk oval.

pectinata = Yunani: pektos = menggumpal; mengacu pada pektin, substansi yang terdapat di dinding sel yang melekatkan sel-sel satu sama lain.

pervillei = dari nama Perville, ahli botani berkebangsaan Perancis

petiolata = Latin: petiolatus = bertangkai; mengacu pada bentuk perlekatan daun.

philippinensis = Latin: philippin = Pilipina, -ensis = dari.

platychila = Yunani: platus = datar, chilus = bibir.

rhombicaulis = Latin: rhombicus = mengetupat (seperti belah ketupat), caulis = batang.

rigidifolia = Latin: rigidus = kaku, folius = daun.

rowanae = dari nama Ellis Rowan, ilustrator dan naturalis asal Australia.

singalana = dari nama Gunung Singgalang, Sumatera Barat.

smilesii = dari nama Smiles, ahli botani.

stenophylla = Yunani: steno = sempit, phylla = daun-daun.

tentaculata = Latin: tentacula = tentakel-tentakel (alat peraba).

treubiana = dari nama Melanchoir Treub, Kepala Departmen Pertanian, Buitenzorg (Bogor pada masa pemerintahan Hindia Belanda).

xiphioides = Latin: xiph = pedang, -oides = menyerupai; mengacu pada gigi-gigi panjang dan tipis yang terdapat di tepi peristome sebelah dalam.